FAMILLY
Panji berada di sebuah ruangan bertembok biru cerah, ada banyak sekali mainan yang berserakan dan di sana ada seorang bocah laki-laki yang tersenyum lebar dan berlarian ke sana kemari
“Panji sini sayang, jangan lari-larian nanti jatuh, hati-hati sayang” ucap seorang perempuan berambut pendek yang terlihat masih muda dan berumur sekitar 30 tahun
“Ini loh maaaa, papa ngejar Panji, nanti kalau Panji nggak lari, bisa ketangkep” bocah kecil bernama Panji itu tetap berlarian ke sana kemari karena dikejar sang ayah
“Pa, udah pa, kasian Panji pasti kecapekan, sekarang mending kita makan ya, makanannya udah mama siapin, makan yuk”
“Bentar ma” suara berat itu berasal dari Papanya Panji
Hap
Panji kecil berhasil tertangkap oleh sang papa, Panji berusaha memberontak namun sang papa malah menggelitiknya dan membuatnya tertawa karena kegelian
Seisi ruangan itu dipenuhi oleh suara tawa Panji dan papanya sementara mamanya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya
Panji tersenyum melihat suasana bahagia yang ada dihadapannya, keluarga yang sangat bahagia sebelum musibah datang menyerang dan mengganti tawanya menjadi air mata
“Panji” seseorang menepuk punggungnya dari belakang
“Mama” lirih Panji ketika melihat sosok perempuan yang begitu ia rindukan berdiri dihadapannya
“Dulu keluarga kita sangat bahagia ya, ada mama, papa, Panji dan calon adek Panji yang waktu itu masih ada di dalam perut mama tapi takdir tuhan adalah hukum yang mutlak, kematian adalah sesuatu yang nyata” perempuan itu menunduk dan menahan tangisnya
“Ma” lirih Panji lagi
“Jangan menyalahkan siapapun atas kematian mama, papa dan adek yang waktu itu masih ada dalam perut mama, semua adalah takdir Ji, anak baik adalah anak yang mendoakan orang tuanya bukan malah berusaha untuk melukai orang lain untuk balas dendam” sang mama menatap mata Panji dalam
“Tapi_” ucapan Panji terhenti, tenggorokannya tercekat, apa yang akan ia katakan untuk membela diri atas perbuatan jahatnya
“Mungkin Panji sudah melakukan perbuatan yang salah tapi Panji masih bisa memperbaikinya nak, bertanggung jawablah atas segala hal yang kamu perbuat”
sang mama melangkah agar lebih dekat dengan Panji “hal yang paling penting ketika menjadi dewasa adalah tanggung jawab” lanjut sang mama
Setelah mengucapkan kata itu, mama Panji mundur perlahan dan menciptakan jarak diantara Panji dan dirinya
Perlahan ia menghilang bersamaan dengan angin yang berhembus kencang, Panji kecil dan kedua orang tuanya pun tiba-tiba menghilang, mainan yang tadi berserakan pun kini tak terlihat, semuanya kosong, Panji dewasa kini hanya sendiri dalam sepi
Panji terbangun dari tidurnya dengan nafas tak beraturan, keringat dingin membasahi tubuhnya, matanya tiba-tiba mengeluarkan sebuah buliran bening, ia menangis sejadi-jadinya
Untuk yang kesekian kalinya Panji bermimpi tentang masa lalunya namun kali ini sang mama tiba-tiba datang dan memberikan nasehat yang begitu berharga dalam hidupnya
Kebencian membuatnya menjadi sosok yang jahat padahal ia tau bahwa garis takdir telah diatur oleh sang maha kuasa